Rabu, 04 Januari 2012

FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI PROSES DAN HASIL BELAJAR ANAK DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN

Kita sering mendengar orang tua mengeluh karena nilai rapor anaknya anjlok, sekalipun sudah mengikuti “les privat” dengan tenaga pengajar yang ahli. Apa sebenarnya yang menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam belajar? Adakah faktor lingkungan yang menjadi penyebab sehingga anak mengalami hambatan dalam proses dan hasil belajar. Faktor apa saja yang mungkin ada dan bagaimana cara mengatasinya?
  1. LATAR BELAKANG
Hakikat pendidikan adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuannya secara optimalmencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataannya tampak sangat jelas bahwa siswa memiliki hambatan-hambatan untuk mencapai kinerja belajar yang baik.
Hal ini dialami siswa disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi proses dan hasil belajarnya, baik disekolah, keluarga maupun lingkungan.
  1. RUMUSAN MASALAH
Untuk memperjelas pembicaraan menenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar ini, dibawah ini gambaran mengenai proses belajar:

ENVIRONMENT-
AL INPUT



LEARNING
RAW INPUT TEACHING OUTPUT
PROCESS



INSTRUMENT-
AL INPUT
Pada gambar diatas bahwa masukan mentah (raw input) yang merupakan bahan baku diberi pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar mengajar (learning teaching proses) dengan tahapan dapat berubah menjadi keluaran (output) dengan kualifikasi tertentu.didalam proses belajar mengajar itu ikut berpengaruh pula faktor lingkungan. (environmental input), kelompok faktor terakhir adalah faktor instrumental (instrumental input).
Dengan mempergunakan kerangka pemikiran diatas, maka dapat diidentifikasi bahwa belajar itu mengandung tiga persoalan pokok, yaitu:
  1. Persoalan mengenai input,
  2. Persoalan mengenai proses,dan
  3. Persoalan mengenai ouput.
Dalam makalah ini persoalan kedualah yang akan disajikan, yaitu mengenai pengaruh lingkungan mengenai proses belajar mengajar, artinya setiap topik bahasan yang mempengaruhi proses dan hasil belajar lebih banyak melibatkan faktor eksternal (lingkungan).
  1. TUJUAN PENULISAN
Mengingat bahwa faktor lingkungan merupakan faktor yang signifikan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik, maka ditulislah makalah ini. Tidak sedikit karena faktor lingkungan banyak anak didik yang mengalami kegagalan dalam belajar.
Oleh karena itu, sangat perlu untuk diperhatikan, karena dengan tujuan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Kita, disamping sebagai tenaga pengajar diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar anak-anak didik kita dan juga dapat mencegah siswa-siswa didik kita dari penyebab-penyebab terhambatnya pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN

FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL
YANG MEMPENGARUHI PROSES DAN HASIL BELAJAR
ANAK DIDIK

Mengajar pada dasarnya adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar merupakan kegiatan milik guru.
Belajar adalah serangkaian kegiatan kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 175).
Selanjutnya, mengenai gambaran mengenai hal ini, faktor eksternal (faktor dari luar) siswa berpengaruh sekali dalam proses dan hasil belajar anak.
Untuk lebih jelasnya, dapat kita lakukan klasifikasi faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi dalam proses dan hasil belajar anak didik dibawah ini:
  1. FAKTOR LINGKUNGAN
Menurut Slameto (2003: 54-72) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah:
  1. Faktor-faktor internal
  1. Jasmaniah, meliputi: kesehatan dan cacat tubuh
  2. Psikologi, meliputi: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
  3. Kelelahan.
  1. Faktor-faktor Eksternal
  1. Keluarga, meliputi: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
  2. Sekolah, meliputi: metode mengajar, kurikulum, relasi antara guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
  3. Masyarakat, meliputi: kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan (Clarc dalam Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2001: 39)).
Walaupun faktor eksternal memiliki persentase lebih sedikit dibandingkan dengan faktor internal, akan tetapi hal tersebut juga mempunyai pengaruh bagi kelancaran belajar anak didik, akan terhambatnya proses belajar mengajar, dan tidak sedikit karena faktor eksternal banyak siswa yang mengalami kegagalan dalam belajar. Untuk itu, hal ini sangat perlu untuk diperhatikan, karena dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar kita diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar seseorang dan dapat mencegah siswa dari penyebab-penyebab terhambatnya belajar.
Lingkungan memberikan nuansa yang dominan dan signifikan terhadap pembinaan anak didik. Lingkungan dalam hal ini, adalah lingkungan hidup manusia, yaitu segala sesuatu yang ada disekitar manusia, yang berpengaruh terhadap sifat-sifat dan pertumbuhan manusia yang berinteraksi didalamnya.
Selama hidup anak didik tidak bisa menghindari diri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya. Interaksi dari kedua lingkungan yang berbeda ini selalu terjadi dalam mengisi kehidupan anak didik, keduanya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap belajar anak didik disekolah (Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 177).
  1. Lingkungan Non sosial
  1. Lingkungan alami
Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, saling berinterksi didalamnya. Lingkungan alami tercipta meliputi benda-benda abiotik, dan hal ini memang tidak dapat dihindari.
Lingkungan alami, seperti keadaan suhu, cuaca, kelembapan udara, iklim, temperatur, dan waktu. Faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Suhu dan kelembapan udara sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Belajar pada keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya dari pada belajar pada udara yang panas dan pengap. Di Indonesia, orang cenderung berpendapat bahwa belajar pada pagi hari akan lebih baik hasilnya dari pada belajar pada sore hari.
Pencemaran lingkungan hidup merupakan malapetaka bagi anak didik yang hidup didalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat mengganggu pernafasan. Udara yang terlalu dingin menyebabkan anak didik kedinginan. Suhu udara yang terlalu panas menyebabkan anak didik kepanasan, pengap dan tidak betah tinggak didalamnya. Oleh karena itu, keadaan suhu dan kelembapan udara berpengaruh terhadap belajar anak didik disekolah (Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 178).
Berdasarkan fakta yang kita lihat, hujan merupakan penghambat perjalan kita pada saat ingin pergi kesekolah. Hal ini akan menyita waktu kita selama berada dirumah, oleh karena hujan waktu pembelajaran disekolah pun tidak efektif lagi.
Fakta sunnatullah (hukum alam) memang tidak bisa kita hindari, namun antisipasi terhadap hal ini akan mengurangi terhambatnya proses dan hasil belajar siswa didik.

  1. Lingkungan buatan (hasil olah manusia)
Lingkungan buatan merupakan suatu lingkunganyang diatur sedemikin rupa oleh hasil olah tangan dan fikir manusia, baik yang disengaja atau tidak disengaja.
Kelompok lingkungan buatan ini, misalnya letak atau tempat sekolah, posisi letak meja dan kursi, letak pergedungannya, kamar kecil, tempat parkir, ketersediaan bak sampah, perpustakaan, taman dan kantin. Semua itu hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi siswa didik dan guru dalam melakukan proses belajar mengajar, serta dapat meningkatkan keberhasilan belajar siswa.
Namun demikian, banyak sekolah-sekolah yang cenderung tidak memperhatikan peletakkan antara ruang kelas dengan kamar kecil (WC). Tidak jarang kita temui ada sebagian dari sekolah-sekolah terkadang letak ruang kelas dengan kamar kecil saling berdampingan. Secara tidak disengaja hal ini berdampak cukup buruk bagi siswa didik. Udara yang membawa bau tidak sedap kedalam kelas akan sangat mengganggu konsentrasi siswa, baik pada saat belajar maupun pada waktu terjadinya proses pembelajaran. Kesejukan udara diakui akan membawa lingkungan kelas yang kondusif untuk terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.
Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan sekolah yang didalamnya dihiasi dengan tanaman atau pepohonan yang dipelihara dengan baik. Apotik hidup mengelompok dengan baik dan rapi sebagai laboratorium alam bagi anak didik. Sejumlah kursi dan meja belajar yang teratur rapi yang ditempatkan dibawah pohon-pohon tertentu agar anak-anak didik dapat belajar mandiri diluar kelas dan berinterksi dengan lingkungan. Kesejukan lingkungan membuat anak didik betah tinggal berlama-lama didalamnya. Begitulah lingkungan sekolah yang dikehendaki (Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 179).
Fakta membuktikan ruang kelas yang berantakan dengan tidak memperhatikan peletakkan tempat sampah. Ruangan yang berdebu dan berserakan dengan sampah merupakan faktor yang merugikan bagi anak didik, secara tidak sadar hal ini dapat diakui mengganggu kegiatan belajar anak didik. Anak didik tidak betah tinggal dikelas dan keinginan hati untuk keluar kelas lebih besar dari pada mengikuti pelajaran didalam kelas.
Oleh karena itu, pembangunan sekolah sebaiknya berwawasan lingkungan, sehingga dapat memperlancar kegiatan belajar anak didik.
  1. .Lingkungan sosial budaya
Manusia adalah makhluk dwi tunggal yaitu selain sebagai makhluk individu manusia juga sebagai makhluk sosial yang cenderung saling berinteraksi dan saling membutuhkan satu sama lain, manusia tidak akan bisa lepas dari lingkungan sosial.
Sistem sosial yang terbentuk mengikat yang perilaku anak didik untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Demikian juga halnya disekolah.
Ketika anak didik berada disekolah, maka ia berada dalam sistem sosial disekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus anak didik taati. Pelanggaran yang dilakukan oleh anak didik akan dikenakan sanksi sesuai dengan jenis dan berat ringannya pelanggaran, lahirnya peraturan sekolah yang bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku anak didik yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah (Syaiful Bahri Djamarah,2008:179).
Lingkungan sekolah langsung berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar seseorang yang sedang memecahkan soal akan terganggu, bila ada orang lain yang mondar mandir didekatnya atau keluar masuk kamarnya, atau berbicara didekat tempat belajarnya. Dalam hal ini ada pengaruh yang kurang menguntungkan. Lingkungan sosial yang lain misalnya, seperti hiruk pikuk lalu lintas, suara mesin pabrik. Hal ini juga berpengaruh terhadap belajar anak didik.
Biasanya faktor-faktor tersebut mengganggu konsentrasi, sehingga perhatian tidak dapat ditujukan kepada hal yang dipelajari, atau aktivitas belajar itu semata-mata. Dengan berbagai cara faktor-faktor tersebut harus diatur, supaya belajar dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya (Sumadi Suryabrata, 1991: 251).
Lingkungan sosial budaya yang terlepas dari sekolah juga mendatamgksn pengaruh bagi anak didik. Seperti lingkungan masyarakat. Keadaan atau situasi lingkungan masyarakat yang tidak mendukung akan mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial anak didik adalah tetangga serta teman-teman sepermainan disekitar perkampungan anak didik tersebut. Kondisi masyarakat dilingkungan kumuh (slum area) yang serba kekurangan dan anak-anak penganggur misalnya, akan sangat mempengaruhi aktifitas belajar siswa. Paling tidak, siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau meminjam alat-alat belajar tertentu yang kebetulan belum dimilikinya (Muhibbin Syah, 1991: 138).
Sebagaimana menurut Muhibbin Syah (1991: 141), Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang bersifat eksternal, pada aspek lingkungan sosial adalah:
  1. Keluarga,
  2. Guru dan staf,
  3. Masyarakat,dan
  4. Teman.
Berdasarkan unsur-unsur diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa lingkungan sosial terbagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Lingkungan keluarga,
  2. Lingkungan sekolah,dan
  3. Lingkungan masyarakat.
Untuk memperjelas ketiga unsur-unsur diatas, semuanya akan diterangkan dalam uraian berikut ini.
Istilah keluarga, sering disebut seisi rumah yang menjadi tanggunggannya, bisa pula disebut sanak saudara atau kaum kerabat. Setiap anak memulai kehidupannya didalam keluarga. Anak tumbuh dalam keluarga yang berbeda-beda, antara lain:
  • Ada orang tua yang merawat dan mendukung anak mereka tetapi ada juga yang memperlakukan dengan kasar atau itdak memperhatikan kebutuhan psikologis anak-anaknya.
  • Ada anak yang bibesarkan dalam keluarga dimana terjadi perceraian dan tinggal dengan orang tua angkat.
  • Ada anak yana memiliki ibu yang bekerja full-time dan hanya memiliki waktu sedikit bagi anak-anaknya.
  • Ada anak yang mempunyai saudara kandung, sedangkan yang lain tidak
Semua variasi lingkungan yang beragam ini mempunyai pengaruh pada nak didalam belajar, baik didalam kelas maupun diluar kelas.
Ada bukti yng menunjukkan bahwa posisi seseorang dalam keluarga yang merawatnya berpebgaruh pada fungsi belajarnya. Studi lain menunjukkan bahwa penampilan sikap orang tua berperan penting dalam memajukan atau menghambat pendidikan seseorang. Sikap-sikap dalam belajar dibentuk dalam keluarga dan yang terutama dianggap berperan adalah tingkat sosial dan budaya dimana keluaraga itu hidup (Monty P satidarma dan Fidelis E waruwu, 2002: 127).
Dewasa ini masyarakat kita mengalami perubahan yang juga membawa perubahan dalam keluarga. Misalnya, ada banyak keluarga yang bercerai yang mengkakibatkan semakin meningkatnya jumlah anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bercerai, dengan orang tua angkat.
Hetherington (1995,1999) meneliti dokumen sekolah anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang bercerai. Selama disekolah dasar, anak-anak itu cukup berprestasi dan hanya sedikit dari mereka yang bermasalah selama mereka diasuh oleh orang tua asuh yang bergaya demokratis. Tetapi bila anak-anak itu tinggal dalam keluarga dengan bergaya acuh tak acuh maka anak-anak ini mengalami kekacauan dalam proses berlembaga dan disorientasi (Monty P satidarma dan Fidelis E waruwu, 2002: 135).
  1. PERAN ORANG TUA DAN GURU UNTUK MENGURANGI DAMPAK PENGARUH EKSTERNAL DALAM PROSES DAN HASIL BELAJAR ANAK DIDIK

Pendidikan anak memang sangat penting. Pendidikan dari sekolah akan membantu seorang anak bukan hanya mengerti teori dari mata pelajaran yang diajarkan, namun yang terpenting yaitu cara belajar yang terstruktur dan baik. Dengan pendidikan yang baik, maka masa depan seorang anak akan lebih terencana dan terjamin. Namun, apakah pendidikan seorang anak hanya dilimpahkan pada sekolah saja? Bagaimana dengan peranan orang tua?

Kunci Pendidikan yang Baik

Sekolah telah menyediakan serangkaian materi untuk mendidik seorang anak hingga dewasa termasuk perkembangan dirinya. Namun, tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah. Kunci menuju pendidikan yang baik adalah keterlibatan orang dewasa yaitu orang-tua yang penuh perhatian. Jika orang-tua terlibat langsung dalam pendidikan anak-anak di sekolah, maka prestasi anak tersebut akan meningkat. Setiap siswa yang berprestasi dan berhasil menamatkan pendidikan dengan hasil baik selalu memiliki orang-tua yang selalu bersikap mendukung. Apa yang dapat dilakukan oleh orang-tua bagi anaknya setelah mereka memasuki pendidikan di sekolah? Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang-tua agar anaknya dapat berprestasi di sekolah.
  • Dukungan Orang-Tua

Orang-tua sebaiknya memberi perhatian kepada anak-anak mereka dan menanamkan kepada mereka nilai dan tujuan pendidikan. Mereka juga berupaya mengetahui perkembangan anak mereka di sekolah. Caranya adalah dengan berkunjung ke sekolah untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak Anda.
  • Kerja Sama dengan Guru

Biasanya apabila timbul masalah-masalah gawat, barulah beberapa orang-tua menghubungi guru anak-anak mereka. Sebaiknya, orang-tua perlu mengenal guru di sekolah dan menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Berkomunikasilah dengan guru untuk perkembangan anak Anda. Guru juga perlu diberitahu bahwa Anda memandang penting pendidikan anak Anda di sekolah sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak Anda. Hadirilah pertemuan orang-tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada pertemuan ini, Anda memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis anak Anda serta perkembangan anak Anda di sekolah.
Jika seorang guru mengatakan hal yang buruk mengenai anak Anda, dengarkan guru tersebut dengan penuh respek, dan selidiki apa yang ia katakan. Anda juga dapat menanyai guru-guru di sekolah mengenai prestasi, sikap, dan kehadiran anak di sekolah. Jika seorang anak sering bermuka dua, maka penjelasan dari guru bisa jadi mengungkap hal-hal yang disembunyikan anak Anda saat bersikap manis di rumah.
  • Sediakan waktu untuk anak

Selalu sediakan waktu yang cukup banyak bagi anak Anda. Jika anak pulang sekolah, umumnya mereka cukup stres dengan beban pekerjaan rumah, ulangan, maupun problem lainnya. Sungguh ideal jika orang-tua misalnya seorang ibu berada di rumah pada saat anak-anak di rumah. Seorang anak akan senang bercerita ketika pulang sekolah seraya mengeluarkan semua keluhan dan bebannya kepada orang-tua. Bisa jadi mereka mulai menceritakan teman-temannya yang nakal yang mulai menawari rokok dan narkoba. Anda bisa segera tanggap dengan hal tersebut jika Anda menyediakan waktu bagi anak-anak Anda.
  • Awasi kegiatan belajar di rumah

Tunjukkan Anda berminat pada pendidikan anak Anda. Pastikan anak-anak Anda sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka. Wajibkan diri Anda untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anak Anda. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak Anda. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan bermain game dari anak-anak Anda.
  • Ajari tanggung jawab

Sekolah umumnya akan memberi banyak tugas untuk dipersiapkan anak di rumah dan di sekolah. Apakah mereka mengerjakan tugas-tugas itu dengan benar dan baik? Seorang anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas mereka di sekolah jika Anda telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan anak Anda pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari seperti membersihkan tempat tidur sendiri menurut jadwal yang spesifik. Pelatihan di rumah seperti itu akan membutuhkan banyak upaya di pihak Anda karena perlu diawasi. Tetapi hal itu akan mengajar anak Anda rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.
  • Disiplin

Jalankan disiplin dengan tegas namun dengan penuh kasih sayang. Jika Anda selalu menuruti keinginan anak, maka mereka akan menjadi manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul jika Anda terlalu memanjakan anak Anda seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dan masalah lainnya.
Jaga kesehatan anak Anda agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak Anda. Anak-anak yang kelelahan tidak dapat belajar dengan baik. Lalu hindari makanan seperti junk food, karena selain menyebabkan problem obesitas, juga mendatangkan pengaruh yang buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.
  • Jadi teman terbaik

Jadilah teman terbaik bagi anak Anda. Luangkan waktu untuk berbagi berbagai hal dengan mereka. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan.
Sebagai orang-tua, Anda dapat menghindari banyak problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak Anda dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses dibangun di atas komunikasi yang baik. Kerja sama yang baik dengan para pendidik di sekolah juga dapat membantu melindungi anak Anda.












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Faktor eksternal yang mempengaruhi anak didik yaitu faktor lingkungan. Menurut Slameto, faktor eksternal meliputi:
  1. Keluarga,
  2. Sekolah,
  3. Masyarakat.
Lingkungan terbagi menjadi lingkungan non sosial dan lingkungan sosial budaya.
Peran orang tua dan guru sbagai pelindung anak didik, untuk mengurangi dampak pengaruh eksternal dalam proses belajar dan hasil belajar anak didik adalah:
  1. Dukungan kedua orang tua,
  2. Kerja sama antara orang tua dan guru,
  3. Sediakan waktu untuk anak,
  4. Awasi kegiatan belajar dirumah,
  5. Ajari tanggung jawab,
  6. Disiplin,
  7. Jaga kesehatan,dan
  8. Jadi teman yang terbaik.



















DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Mustaqim dan Abdul Wahab. 2003. Psikologi pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Satiadarma, Monty P dan Fidelis E Waruwu. 2002. Mendidik Kecerdasan. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar